Nasional.is.me, mulai dari diri sendiri untuk kemandirian bangsa

“ Kasihan bangsa yang memakai pakaian yang tidak ditenunnya,
memakan roti dari gandum yang tidak dituainya
dan meminum anggur yang tidak diperasnya ”

~ Bangsa kasihan – Khalil Gibran ~

Entah kenapa saya suka sekali dengan puisi tersebut, mungkin karena saya merasa bangsa ini seharusnya bisa menjadi bangsa yang lebih besar dengan segala sumber dayanya. Mungkin karena saya yakin bangsa ini masih bisa berubah menjadi digjaya jika kita semua benar-benar mencintai bangsa ini.

Kata AA Gym, cara efektif merubah bangsa ini adalah dengan merubah diri sendiri, mulai dari yang paling kecil, dan mulai dari sekarang. Semudah itu kah?…. sepertinya tidak. Manusia adalah mahluk sosial, yang segala tindakannya pasti dipengaruhi dan mempertimbangkan lingkungan sekitar. Misalnya hampir semua dari kita pasti akan mengatakan korupsi, kolusi dan nepotisme adalah perbuatan salah dan tidak sehat untuk kemajuan suatu bangsa, tapi saat di benturkan dengan kewajiban memajukan perusahaan kita tidak segan-segan mengatakan GCG, anti bribery adalah sebagai hambatan. Kadang terpaksa setuju bahwa korupsi dan kolusi diperlukan untuk kemajuan perusahaan. Untuk dilema tersebut saya hanya bisa membesarkan hati dengan mengatakan, dunia bukan hanya Hitam Putih, ada juga daerah abu-abu dengan gradasi dari Hitam ke putih, ada sedikit orang yang berada di area hitam, ada sedikit orang yang berada di area putih, tetapi untuk saya pribadi yang berada di zona abu-abu hanya berusaha sebanyak mungkin mengarah ke sisi putih.

Kembali tentang kemandirian bangsa, konon katanya Korea Selatan sebelum menjadi salah satu raksasa industri electronik juga sempat terseok-seok, satu hal yang membuat industri electronik di Korea Selatan maju karena kesadaran warganya, mereka tidak keberatan membeli produk dalam negeri yang masih berkualitas rendah dengan harga mahal, dengan demikian perusahaan-perusahaan bisa terus mengembangkan teknologinya. Semangat nasionalisme yang berhasil membangun Korea Selatan. Lalu bagaimana dengan kita, apa masih ada semangat rela berkorban untuk kepentingan negara?

Banyak dari kita yang menuntut perubahan tetapi tidak mau menciptakan perubahan, yang lebih parah lagi kita ingin perubahan tetapi tidak mau terkena dampak negatif perubahan. Ingin produk dalam negeri tidak kalah dengan produk luar negeri, tapi sudah siapkan kita mengganti Samsung atau Apple kita dengan Nexian atau Mito? Lalu bagaimana dengan Dahana?, kandungan lokal yang diupayakan dalam produk Dahana apakah karena rasa nasionalisme atau sekedar tuntutan pasar? Kira-kira apa komentar kita seandainya laptop kantor kita ganti dengan zyrex atau advan. Atau mobil dinas menggunakan mobil esemka.

Apapun kondisinya, inilah bangsa (perusahaan) kita, ingat kata-kata God Bless, “lebih baik disini, rumah kita sendiri”. Dian nafi dalam bukunya sarvatraesa: Sang Petualang berucap: “Silahkan jadi kritikus tentang apapun di negeri (perusahaan) ini, tapi jangan lupakan nasionalisme kalian. Jangan cuma kaya kritik tapi miskin jiwa negarawan”. Jadikan bangsa ini adalah kita, nasional.is.me.

Baca selengkapnya di http://www.bumn.go.id/dahana/berita/0-BUDAYA-KITA